<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680</id><updated>2011-10-15T07:38:57.437+07:00</updated><title type='text'>heryati</title><subtitle type='html'>menyemai benih kebajikan,...menembus batas ruang jarak</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-8588810499774232512</id><published>2010-10-15T10:42:00.002+07:00</published><updated>2010-10-15T10:50:48.473+07:00</updated><title type='text'>TEORI KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU</title><content type='html'>Oleh : Fajar Junaedi S.Sos, M.Si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori yang terangkum dalam bagian terdahulu menekankan pada hasil publik dan kebudayaan dari komunikasi massa. Perkembangan kajian teori komunikasi massa lainnya, yang akan dibahas dalam bagian ini menekankan pada pengaruh individual dari komunikasi massa. Pada bagian ini, kita membahas beberapa dari teori tradisi pengaruh-individu dalam studi mengenai komunikasi massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)&lt;br /&gt;Teori pengaruh komunikasi massa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang kelihatan berliku-liku dalam abad ini. Dari awalnya, para peneliti percaya pada teori pengaruh komunikasi “peluru ajaib” (bullet theory) Individu-individu dipercaya sebagai dipengaruhi langsung dan secara besar oleh pesan media, karena media dianggap berkuasa dalam membentuk opini publik. Menurut model ini, jika Anda melihat iklan Close Up maka setelah menonton iklan Close Up maka Anda seharusnya mencoba Close Up saat menggosok gigi.&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 50-an, ketika aliran hipotesis dua langkah (two step flow) menjadi populer, media pengaruh dianggap sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang minimal. Misalnya iklan Close Up dipercaya tidak akan secara langsung mempengaruhi banyak orang-orang untuk mencobanya. Kemudian dalam 1960-an, berkembang wacana baru yang mendukung minimalnya pengaruh media massa, yaitu bahwa pengaruh media massa juga ditengahi oleh variabel lain. Suatu kekuatan dari iklan Close Up secara komersil atau tidak untuk mampu mempengaruhi khalayak agar mengkonsumsinya, tergantung pada variabel lain. Sehingga pada saat itu pengaruh media dianggap terbatas (limited-effects model).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang setelah riset di tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ilmuwan komunikasi sudah kembali ke powerful-effects model, di mana media dianggap memiliki pengaruh yang kuat, terutama media televisi.Ahli komunikasi massa yang sangat mendukung keberadaan teori mengenai pengaruh kuat yang ditimbulkan oleh media massa adalah Noelle-Neumann melalui pandangannya mengenai gelombang kebisuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uses, Gratifications and Depedency&lt;br /&gt;Salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan serimg diguankan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002 : 388). Di sini sikap dasarnya diringkas sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi pengaruh yang klasik pada mulanya mempunyai anggapan bahwa konsumen media, bukannya pesan media, sebagai titik awal kajian dalam komunikasi massa. Dalam kajian ini yang diteliti adalah perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman langsungnya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat mengkonsumsi media massa(Rubin dalam Littlejohn, 1996 : 345).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain. Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002 : 387). Kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas keseharian (McQuail, 2002 : 387).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset yang lebih mutakhir dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan dan mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media – persons interactions sebagai berikut :&lt;br /&gt;Diversion, yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah; sarana pelepasan emosi&lt;br /&gt;Personal relationships, yaitu persahabatan; kegunaan sosial&lt;br /&gt;Personal identity, yaitu referensi diri; eksplorasi realitas; penguatan nilai&lt;br /&gt;Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (McQuail, 2002 : 388).&lt;br /&gt;Seperti yang telah kita diskusikan di atas, uses and gratifications merupakan suatu gagasan menarik, tetapi pendekatan ini tidak mampu melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal secara lebih mendalam. Untuk itu mari sekarang kita mendiskusikan beberapa perluasan dari pendekatan yang dilakukan dengan teori uses and gratifications.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)&lt;br /&gt;Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).&lt;br /&gt;Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media --kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Ketergantungan (Dependency Theory)&lt;br /&gt;Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.&lt;br /&gt;Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media. Lalu apa yang sebenarnya melandasi ketergantungan khalayak terhadap media massa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jawaban mengenai hal ini. Pertama, khalayak akan menjadi lebih tergantung terhadap media yang telah memenuhi berbagai kebutuhan khalayak bersangkutan dibanding pada media yang menyediakan hanya beberapa kebutuhan saja. Jika misalnya, Anda mengikuti perkembangan persaingan antara Manchester United, Arsenal dan Chelsea secara serius, Anda mungkin akan menjadi tergantung pada tayangan langsung Liga Inggris di TV 7. Sedangkan orang lain yang lebih tertarik Liga Spanyol dan tidak tertarik akan Liga Inggris mungkin akan tidak mengetahui bahwa situs TV 7 berkaitan Liga Inggris telah di up date, atau tidak melihat pemberitaan Liga Inggris di Harian Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.&lt;br /&gt;Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset Eksperimen&lt;br /&gt;Riset eksperimen (experimental research) merupakan pengujian terhadap efek media dibawah kondisi yang dikontrol secara hati-hati. Walaupun penelitian yang menggunakan riset eksperimen tidak mewakili angka statistik secara keseluruhan, namun setidaknya hal ini bisa diantisipasi dengan membagi obyek penelitian ke dalam dua tipe yang berada dalam kondisi yang berbeda.&lt;br /&gt;Riset eksperimen yang paling berpengaruh dilakukan oleh Albert Bandura dan rekan-rekannya di Stanford University pada tahun 1965. Mereka meneliti efek kekerasan yang ditimbulkan oleh tayangan sebuah film pendek terhadap anak-anak. Mereka membagi anak-anak tersebut ke dalam tiga kelompok dan menyediakan boneka Bobo Doll, sebuah boneka yang terbuat dari plastik, di setiap ruangan. Kelompok pertama melihat tayangan yang berisi adegan kekerasan berulang-ulang, kelompok kedua hanya melihat sebentar dan kelompok ketiga tidak melihat sama sekali.&lt;br /&gt;Ternyata setelah menonton, kelompok pertama cenderung lebih agresif dengan melakukan tindakan vandalisme terhadap boneka Bobo Doll dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga. Hal ini membuktikan bahwa media massa memiliki peran membentuk karakter khalayaknya.&lt;br /&gt;Kelemahan metode ini adalah berkaitan dengan generalisasi dari hasil penelitian, karena sampel yang diteliti sangat sedikit, sehingga sering muncul pertanyaan mengenai tingkat kemampuannya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (generalizability). Kelemahan ini kemudian sering diusahan untuk diminimalisir dengan pembuatan kondisi yang dibuat serupa mungkin dengan keadaan di dunia nyata atau yang biasa dikenal sebagai ecological validity Straubhaar dan Larose, 1997 :415).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survey&lt;br /&gt;Metode survey sangat populer dewasa ini, terutama kemanfaatannya untuk dimanfaatkan sebagai metode dasar dalam polling mengenai opini publik. Metode survey lebih memiliki kemampuan dalam generalisasi terhadap hasil riset daripada riset eksperimen karena sampelnya yang lebih representatif dari populasi yang lebih besar. Selain itu, survey dapat mengungkap lebih banyak faktor daripada manipulasi eksperimen, seperti larangan untuk menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dan faktor agama. Hal ini akan diperjelas dengan contoh berikut.&lt;br /&gt;Seorang peneliti melakukan penelitian mengenai efek menonton tayangan kekerasan seksual terhadap remaja. Yang pertama dilakukannya adalah menentukan sampel, kemudian membuat variabel independen yang berupa terpaan media (seperti, “Berapa kali Anda menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dalam minggu kemarin ?”). Kemudian ditanyakan efek media massa yang menjadi variabel dependen, seperti kekerasan seksual yang dilakukan responden. Keduanya kemudian dibuat skala pengukuran yang tepat (ordinal, nominal atau interval). Setelah itu, diukur dengan rumus statistik yang sesuai (Straubhaar dan Larose, 1997 :414).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset Ethnografi&lt;br /&gt;Riset etnografi (ethnografic research) mencoba melihat efek media secara lebih alamiah dalam waktu dan tempat tertentu. Metode ini berasal dari antropologi yang melihat media massa dan khalayak secara menyeluruh (holistic), sehingga tentu saja relatif membutuhkan waktu yang lama dalam aplikasi penelitian. Dalam penelitian yang menggunakan metode ini, para peneliti menggunakan teknik observasi, pencatatan dokumen dan wawancara mendalam. Dalam melakukan wawancara mendalam, peneliti harus mampu mengeksplorasi beragam informasi dari responden, tanpa melalui pertanyaan yang sifatnya kaku sebagaimana penelitian survey (Straubhaar dan Larose, 1997 :417). Peneliti hanya memerlukan daftar pertanyaan sebagai acuan dalam wawancara yang dapat dikembangkan secara lentur ketika mengadakan wawancara, sehingga daftar pertanyaan dalam metode ini dinamakan sebagai petunjuk wawancara (interview guide).&lt;br /&gt;Misalnya, peneliti yang melakukan penelitian mengenai efek kehadiran media televisi terhadap kebudayaan penduduk Samin, sebuah sub suku Jawa yang hidup di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang selama ini terkenal dengan ketertutupannya dengan dunia luar. Yang dilakukan peneliti adalah mengamati secara seksama bagaimana masyarakat Samin mengkonsumsi televisi. Ikut bersama mereka menonton televisi, untuk mengamati apa saja yang mereka lakukan dan komentari pada saat menonton televisi, kemudian setelah itu mewawancarai mereka secara mendalam mengenai apa yang telah mereka tonton. Setalah itu semuanya dicatat secara lengkap, sehingga hasil dari penelitian ini kemudian akan sangat kaya informasi yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://komunikasimassa-umy.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-8588810499774232512?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/8588810499774232512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2010/10/teori-komunikasi-massa-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/8588810499774232512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/8588810499774232512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2010/10/teori-komunikasi-massa-terhadap.html' title='TEORI KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-4560540218870328188</id><published>2008-12-19T19:31:00.000+07:00</published><updated>2008-12-19T19:33:19.387+07:00</updated><title type='text'>Periklanan</title><content type='html'>Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang, atau jasa secara non-personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pem­bayaran&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengiklan tidak hanya mencakup perusahaan bisnis tetapi juga museum, organisa•: amal, dan lembaga pemerintah yang memasang Iklan untuk berbagai masyaraka: sasaran. Iklan merupakan cara yang efektif-biaya guna menyebarkan pesan, baik untuk membangun preferensi merek bagi Coca-Cola atau untuk mendidik penduduk suatu negara agar menghindari obat-obat terlarang.Organisasi menangani periklanan dengan berbagai cara. Pada perusahaan-per­usahaan kecil, periklanan ditangani oleh seseorang di departemen penjualan atau pemasaran, yang bekerja sama dengan biro periklanan. Perusahaan besar sering mem­bentuk departemen periklanan sendiri, di mana manajernya melapor kepada wakil direktur pemasaran. Tugas departemen periklanan adalah membuat anggaran total; membantu mengembangkan strategi periklanan; menyetujui iklan dan kampanye: serta menangani periklanan melalui surat-langsung, pajangan penyalur, dan bentuk periklanan lain yang biasanya tidak dilakukan oleh biro periklanan. Perusahaan umumnya menggunakan biro periklanan dari luar perusahaan untuk menciptakan membuat kampanye periklanan serta memilih dan membeli media.Dalam mengembangkan program periklanan, manajer pemasaran harus selalu mulai dengan mengidentifikasi pasar sasaran dan motif pembeli. Kemudian mengambil lima keputusan utama dalam pembuatan program periklanan, yang disebut lima M: Mission (misi): Apakah tujuan periklanan? Money (uang): Berapa banyak yang dapat dibelanjakan? Message (pesan): Pesan apa yang harus disampaikan? Media (media): Media apa yang akan digunakan? Measurement (pengukuran): Bagaimana mengevaluasi hasilnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: teddykw.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-4560540218870328188?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/4560540218870328188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/periklanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/4560540218870328188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/4560540218870328188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/periklanan.html' title='Periklanan'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-6161627962443722310</id><published>2008-12-11T18:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T18:16:28.051+07:00</updated><title type='text'>PENGANTAR PERIKLANAN</title><content type='html'>Periklanan memegang peranan yang cukup penting dan merupakan bagian dari kehidupan industri modern, dan umumnya hanya bisa ditemukan di Negara-negara maju atau Negara-negara yang tengah berkembang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan akan adanya periklanan berkembang seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kota-kota yang dipenuhi oleh banyak toko, restoran dan pusat-pusat perdagangan dan penyedia jasa. Selain itu perkembangan periklanan juga sangat dipengaruhi dengan perkembangan media baik cetak maupun media elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periklanan = Bisnis Ide&lt;br /&gt;Periklanan bukanlah bisnis menggambar atau bisnis komputer grafis, Periklanan adalah bisnis ide dan kreatifitas (Roman, Maas &amp; Nisenholtz, 2005) Menggambar hanyalah ekspresi citra yang kita tuangkan sebagai bentuk konsep ide di dalam pikiran namun akarnya tetap ide itu sendiri, menggambar lebih merupakan sarana untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;Proses mengungkapkan ide dalam bentuk gambar penting dalam periklanan, namun gambar yang bagus dan indah bukan hal yang utama karena kita hanya dituntut untuk dapat menuangkan ide dalam bentuk citra gambar (Lwin &amp; Aitchison. 2005)&lt;br /&gt;Jadi, mampu menggambar dengan baik bukan persyaratan di dunia periklanan. Memiliki naluri dan ide pemasaran yang memungkinkan untuk memadukan sebuah usulan penjualan dan nilai-nilai komersial sebuah gagasan jauh lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periklanan &amp; Kebohongan&lt;br /&gt;Hanya satu tujuan biro iklan membuat iklan, yaitu menjual. Dalam membuat iklan tugas biro iklan adalah “to minimize the weakness and maximize the strength”. Bukan menipu atau membohongi konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teknik penyampaian pesan iklan ada yang disebut teknik dramatisasi,teknik ini berbeda dengan kebohongan. Perbedaanya dalam konteks ilmu periklanan adalah (Madjadikara, 2004) :&lt;br /&gt;Kebohongan :&lt;br /&gt;Memberikan informasi tentang sesuatu yang tidak benar dengan maksud menipu dan memperdaya sasaran&lt;br /&gt;Dramatisasi :&lt;br /&gt;Memberikan informasi tentang sesuatu yang benar dengan cara melebih-lebihkan sifat dan keadaannya, dengan maksud untuk menarik perhatian sasaran.&lt;br /&gt;Teknik dramatisasi inilah yang kemudian membuat iklan sering mendapat kritikan (hiperrealitas), padahal dramatisasi inilah sebenarnya hal yang menarik dalam iklan. teknik inilah yang ditunggu dan jadi media penghibur sasaran. Para pemirsa menghendaki agar sebuah iklan itu juga sekaligus dapat menjadi media hiburan, dimana memang diperlukan khayalan visual yang didramatisasi.&lt;br /&gt;Semua jenis media hiburanpun seperi film, sinetron dan drama selalu menggunakan teknik ini, dramatisasi memang harus ada. Tanpa dramatisasi baik iklan, film, sinetron dan drama akan menjadi terasa "kering" dan tidak menghibur.&lt;br /&gt;Selain itu iklan merupakan hasil riset yang mendalam terhadap konsumen, sehingga iklan hanyalah mencerminkan masyarakat bukan bermaksud membentuknya (Lwin &amp; Aitchison. 2005). Konsumen bukanlah mahluk yang tidak mempunyai pikiran dan tidak bebas meskipun ada iklan. Artinya konsumen mengetahui mana yang kebohongan mana yang informasi dalam kemasan dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda Periklanan Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo Burnett&lt;br /&gt;Leo Burnett Agency, Chicago&lt;br /&gt;Mendirikan biro iklan di Chicago. Filosofi biro iklannya adalah “Gapailah ketinggian, karena dengan cara itu kita tidak akan mengejar segenggam lumpur”. Prinsipnya yang paling terkenal adalah “Ide Besar”. Menurutnya setiap kampanye&lt;br /&gt;Harus mengandung ide yang Akan bertahan selama bertahun-tahun dan memisahkannya dengan hal yang lain. Beberapa karya periklanan Burnett bersumber pada nilai-nilai kemanusiaan universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rooser Reeves (1910-1984)&lt;br /&gt;Ted Bates &amp; Co, New York&lt;br /&gt;Tokoh periklanan pada tahun 1950-an di biro iklan Ted Bates New York. Ia menerbitkan buku “Reality in Advertising” di tahun 1961 semasa aktif di Ted Bates dan menjadi best-seller.&lt;br /&gt;Teorinya yang paling terkenal di dalam periklanan adalah USP atau biasa disebut “ Unique Selling Proposition“ dan mengantarkan Rosser Reeves menjadi terkenal di bidang periklanan.&lt;br /&gt;Ia menggambarkan USP di (dalam) tiga komponen yang mengedepankan prinsip dari teknik menjual agresif&lt;br /&gt;Menurutnya tugas iklan adalah memasukkan merek sebanyak mungkin kedalam kotak mental, dengan cara menjual ciri khas dari produk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Bernbach (1911-1982)&lt;br /&gt;Doyle Dane Bernbach, New York&lt;br /&gt;" Aku memperingatkan kamu untuk melawan terhadap kepercayaan bahwa iklan adalah suatu ilmu pengetahuan "&lt;br /&gt;Bernbach memimpin revolusi periklanan pada dekade 1960-an dan menjadikannya salah satu kekuatan kreatif paling berpengaruh di dalam sejarah periklanan. Di biro iklan Doyle Dane Bernbach (DDB) New York, ia mempelopori iklan yang dibuat lebih jenaka, lebih cerdas dan kadang sangat tidak sopan.&lt;br /&gt;Ia adalah seorang Adman yang banyak mengilhami orang lain. Setelah kematian Bernbach pada Oktober 1982, prinsipnya berdampak lebih besar pada kultur Amerika dibanding para Adman lain yang telah lahir 133 tahun sebelumnya"&lt;br /&gt;16 tahun kemudian, Dampak Bernbach berlanjut dan tidak berkurang. Ia dianugrahi daftar kehormatan Iklan abad 20 sebagai orang yang paling berpengaruh dalam periklanan. Pengaruhnya masih hidup dan relevan untuk membantu memberi petunjuk untuk industri periklanan sampai abad 21.&lt;br /&gt;Bagi penulis naskah dan pengarah seni muda yang masih berkembang harus mempelajari kampanye klasik Bernbach karena banyak dari apa yang diyakininya telah menjadi “hukum kreatif” bagi orang-orang iklan.&lt;br /&gt;Prinsipnya yang palig terkenal adalah menempatkan iklan sebagai sebuah seni bukan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;" Iklan bukan suatu ilmu pengetahuan, Iklan adalah bujukan. Dan bujukan adalah suatu seni." – Bill Bernbach&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Ogilvy (1911-1999)&lt;br /&gt;Ogilvy &amp; Mather Worldwide, New York&lt;br /&gt;Ogilvy adalah Adman yang terkenal di dunia. Ia adalah raksasa di dalam bisnis periklanan selain nama besar Bill Bernbach, Leo Burnett, Ted Bates, Rosser Reeves dan raksasa periklanan lain dalam bisnis itu.&lt;br /&gt;Pesaingnya Ed Ney, yang memimpin Young &amp; Rubicam mengatakan:&lt;br /&gt;"Ia mahluk cerdas yang sangat Kompetitif. Ia membawa gaya kepada bisnis periklanan. Bernbach OK, tetapi David adalah terbaik dari yang terbaik"&lt;br /&gt;Di tahun 1975, dia disebut sebagai "ahli sihir yang paling dicari di dalam industri periklanan."&lt;br /&gt;David menjadikan bisnis periklanan sangat menarik dan mengundang banyak orang cerdas kedalamnya. Bukunya Confessions of an Advertising Man adalah buku paling laris yang diterbitkannya di tahun 1962, dan diterbitkan kembali di inggris lebih dari 40 tahun kemudian. Buku itu telah mempengaruhi pandangan dari banyak orang tentang bisnis periklanan.&lt;br /&gt;Pendiri biro iklan Ogilvy &amp; Mather ini filosofinya banyak didasarkan pada hasil riset. Prinsipnya yang paling kontroversial dan jadi perdebatan adalah “tidak seorangpun akan membeli sesuatu dari seorang pelawak atau komedian dan bahwa tulisan putih di atas latar belakang hitam akan sulit dibaca”.&lt;br /&gt;Namun prinsipnya bahwa “konsumen itu bukan orang yang bodoh, ia adalah istri anda” merupakan prinsip yang sulit terbantahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Hegarty&lt;br /&gt;Bartle Bogle Hegarty, New York&lt;br /&gt;Menciptakan kampanye iklan legendaris : levis, lego, audi&lt;br /&gt;John yang bertubuh mungil dan ceking, bersama teman-temannya mendirikan BBH di tahun 1982 dan semenjak saat itu merebut serangkaian penghargaan kreatif&lt;br /&gt;Menurutnya untuk membuat iklan yang baik craftsmanship merupakan hal yang penting karena saat ini kita hidup di budaya visual. Orang lebih peduli pada pencitraan dibanding masa sebelumnya. Cara kita berbusana, dalam hal yang kita kerjakan, bahkan makan. Semuanya bersifat visually driven. Orang mengambil keputusan berdasarkan visual.&lt;br /&gt;pakar periklanan Amerika ini juga menyebutkan, globalisasi membuat produk-produk memiliki kualitas yang hampir serupa. Sekarang industri lebih banyak bersaing dengan menyentuh emosi dan gengsi konsumen. Hegarty mengatakan, saat ini konsumen membeli barang bukan karena keunggulannya tapi karena produk tersebut membuat sang konsumen percaya, merasa yakin, dan jatuh cinta. Itulah yang disebut dengan Emotional Selling Proposition (www.pertamina.com/indonesia/head_office)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean Marie Dru&lt;br /&gt;TBWA Worldwide&lt;br /&gt;Disturbtion adalah pendekatan revolusioner terhadap periklanan yang dikembangkan oleh Jean Marie Dru dari biro iklan TBWA Worldwide. Ia mengatakan jika perusahaan tidak menciptakan perubahan maka perubahanlah yang akan menciptakan mereka. Dru percaya bahwa iklan harus mengganggu kenormalan yang dapat diprediksi, sehingga dapat masuk ke dalam koteks yang sama sekali baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jay Chiat&lt;br /&gt;Chiat/Day, California&lt;br /&gt;Pendiri biro iklan Chiat/Day yang sangat berpengaruh di California, dan berhasil mengangkat derajat biro iklan yang tidak berlokasi di Madison Avenue.&lt;br /&gt;Jay adalah sosok yang mempesona, menghebohkan dan memiliki daya juang tinggi. Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah “How big can we get, before we get bad ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan dan Pemasaran&lt;br /&gt;Periklanan dan pemasaran adalah dua hal yang sangat sulit untuk dipisahkan, keduanya saling berkait antara satu dengan yang lain. Iklan tidak pernah lepas dari kegiatan pemasaran (widyatama, 2005) Iklan merupakan bagian dari bauran promosi, promosi sendiri merupakan salah satu elemen dari bauran pemasaran ( 4 P ). Namun yang harus diingat bahwa sebuah kampanye pemasaran tidak bisa “hanya” mengandalkan periklanan.&lt;br /&gt;Dalam sebuah kolom di majalah Cakram yang ditulis Finala Abiyadi, disebutkan bahwa di antara fungsi empat "P", product, price, packaging, dan promotion, yang masing-masing memegang seperempat bagian dalam sebuah industri, iklan memiliki seperempat bagian di wilayah promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seperempat bagian tersebut, iklan juga masih harus berbagi dengan kampanye lini bawah, kehumasan dan lainnya. Sehingga setelah ditotal oleh Finala, fungsi iklan hanyalah seperenambelas. Dapat dikatakan bahwa iklan hanya memiliki nilai seperenambelas dari sebuah kegiatan pemasaran. Maka artinya sukses atau tidaknya sebuah produk tidak bisa hanya di tentukan oleh periklanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biro Iklan&lt;br /&gt;Dalam lembaga periklanan hampir semua pekerja di biro-biro iklan bekerja atas dasar kontrak bagi organisasi atau perusahaan lain. Perusahaan besar biasanya memiliki unit periklanan sendiri, namun fungsinya biasanya terbatas, dalam urusan periklanan besar biasanya akan memakai jasa biro iklan eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum biro iklan yang memberikan jasa full service advertising dapat dibagi dalam empat fungsi (widyatama, 2005), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Merancang Strategi Iklan&lt;br /&gt;Yaitu membuat perencanaan dari tahapan :&lt;br /&gt;- Pembuatan strategi periklanan&lt;br /&gt;Pada tahapan ini peran dari klien sangat dibutuhkan, karena marketing brief yang dibuat oleh klien yang berisi informasi dan situasi pasar harus lengkap dan dapat dipahami oleh agensi. Sehingga pihak biro iklan dapat merangkumnya dalam creative brief untuk acuan bagi tim kreatif dalam menentukan kreatifitas periklanan&lt;br /&gt;- menentukan pesan periklanan&lt;br /&gt;Kecenderungan client adalah ingin memasukkan sebanyak mungkin pesan. Pihak agency biasanya akan berdalih bahwa komunikasi yang bagus itu adalah yang single message. Terutama untuk produk paritas dengan USP yang notabene sama dengan produk kompetitor&lt;br /&gt;- menentukan kreatifitas periklanan&lt;br /&gt;hingga merencanakan atau mendesain bagaimana isi dan strategi penyampaian pesan&lt;br /&gt;bagaimana ilustrasi dan bentuk iklan yang akan dibuat, untuk siapa saja iklan tersebut akan disampaikan, dan di media mana saja iklan tersebut akan dipasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memproduksi Iklan&lt;br /&gt;Fungsi ini merupakan kelanjutan dari fungsi perencanaan, yaitu mengkongkritkan perencanaan iklan dalam bentuk nyata. Namun bisa saja terjadi, perencanaan disusun oleh pihak lain sementara biro iklan hanya memproduksi saja berdasarkan perencanaan yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyeleksi Media&lt;br /&gt;Fungsi biro iklan yang lain adalah menyeleksi media yang digunakan. Dalam dunia periklanan media merupakan faktor yang cukup vital dalam menentukan keberhasilan iklan. Oleh karena itu biro iklan sangat berhati-hati dalam penyeleksian media tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menempatkan Iklan&lt;br /&gt;Setelah alternatif media telah dipilih, maka langkah selanjutnya adalah proses penempatan iklan. Penempatan iklan yang dimaksud adalah penyerahan materi iklan pada media yang telah dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir Kreatif Periklanan&lt;br /&gt;Sebenarnya ada dua rute yang bisa diambil untuk masuk ke sebuah agensi. Yang pertama sebagai seorang Pengarah Seni (Art Director) atau sebagai seorang Penulis Naskah (Copywriter). Kedua jabatan itu sebenarnya pada akhirnya akan melebur karena tuntutan pekerjaan. Seorang pengarah seni harus bisa bermain dengan kata-kata dan begitu juga sebaliknya, seorang penulis naskah harus bisa berpikir secara visual. Sehingga konsep yang dikeluarkan akan menjadi lebih matang. Kedua bidang diatas ada sebenarnya untuk membagi tugas dan sebuah karya yang menggabungkan dua pikiran akan menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarah Seni&lt;br /&gt;Satu rahasia terbesar dalam dunia periklanan: Anda tidak harus bisa menggambar untuk menjadi seorang pengarah seni. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa periklanan adalah bisnis ide. Untuk masuk ke bidang ini, hal yang paling utama adalah mempunyai cita rasa visual yang tinggi. Sebuah bidang karya yang secara visual berantakan akan merusak sebuah konsep yang kuat. Oleh karena itulah seorang pengarah seni diperlukan. Untuk mengemas sebuah dagangan sehingga konsumen mau membelinya. Bagaimana caranya memperoleh hal tersebut?&lt;br /&gt;Secara akademis, ada beberapa jalan yang bisa diambil untuk mengasahnya. Desain Grafis adalah pilihan yang paling umum. Disitu kita dapat mempelajari teknik-teknik dasar grafis yang akan membantu kita untuk memperindah karya mulai dari tipografi, teori warna hingga komunikasi visual.Pilihan lain adalah Fotografi. Seorang pengarah seni yang baik adalah seseorang yang mempunyai mata yang tajam secara visual. Dia harus tahu teknik pencahayaan yang baik, tata letak yang rapi (ataupun yang berantakan) dan tentunya bagaimana menggabungkan semua elemen visual dalam sebuah karya.Mungkin itulah yang mengharuskan seorang pengarah seni untuk menguasai minimal kedua bidang diatas. Dan dia juga harus sangat rewel. Dalam arti kata, sewaktu membuat sebuah karya, dia harus sangat teliti dalam setiap detilnya. Heading, kerning, leading dan ing-ing lainnya. Itulah yang membuatnya bekerja semalaman sementara si penulis naskah tidur di sofa ruang televisi lantai tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Naskah&lt;br /&gt;Jalan untuk menjadi seorang penulis relatif lebih mudah karena bidang ini lebih banyak didominasi oleh kecintaan seseorang untuk menulis. bisa saja kuliah di jurusan Pertanian, tapi seorang penulis amatir yang gemar menelan semua jenis karya tulis. Kemungkinan besar akan bisa menjadi seorang penulis. Semudah itukah? Tentu saja Tidak.&lt;br /&gt;Karena penulis naskah diharuskan untuk berbicara ke beberapa juta konsumen dengan bahasa dan jargon mereka masing-masing sesuai dengan ciri khas mereka. membuat sebuah cerita mengenai sebuah produk sehingga konsumen merasa terpanggil, simpati dan pada akhirnya ingin mencobanya.Akhir-akhir ini, banyak penulis naskah yang tidak terlalu mengindahkan gaya tulisan mereka. Mungkin karena trend sekarang sudah sedikit mengecilkan peran mereka sebagai penulis, karena banyak iklan-iklan yang keluar sekarang tidak memuat banyak tulisan. Tapi sebuah karya tulis yang indah tidak akan bisa membuat seseorang menjadi bosan begitu membacanya. Setiap paragraf mengundang pembaca untuk terus berjalan menuju paragraf berikutnya, sampai pada akhirnya pembaca sampai ke tujuan akhir dan tersenyum puas.Itulah yang seharusnya seorang penulis naskah cari dalam membuat karyanya.&lt;br /&gt;Membawa pembaca dalam ruang imajinasinya dan membiarkannya bergerak leluasa. Tidak gampang. Sangat susah. Tapi menantang. Dan jangan pernah takut diancam oleh seorang pengarah seni untuk memperpendek sebuah tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku&lt;br /&gt;-Roman, Kenerth, Jane Maas &amp; Martin Nisenholtz (2005)&lt;br /&gt;How To Advertise, Membangun Merek dan Bisnis dalam Dunia Pemasaran Baru, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.&lt;br /&gt;-Lwin, May and Jim Aitchison (2005). Clueless in Advertising, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta&lt;br /&gt;-Madjadikara, Agus S (2004). Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan ? PT. Gramedia Pustaka, Jakarta&lt;br /&gt;-Widyatama, Rendra (2005). Pengantar Periklanan.&lt;br /&gt;Buana Pustaka Indonesia. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs&lt;br /&gt;- www.pertamina.com/indonesia/head_office&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah&lt;br /&gt;- CAKRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.jackvisual.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-6161627962443722310?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/6161627962443722310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/pengantar-periklanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/6161627962443722310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/6161627962443722310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/pengantar-periklanan.html' title='PENGANTAR PERIKLANAN'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-8126128652522870778</id><published>2008-12-09T15:51:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T15:54:47.294+07:00</updated><title type='text'>Merayu Khalayak Dengan Promosi</title><content type='html'>Indonesia tergolong jago dalam menabur pesan untuk khalayak. "Oleh dunia internasional, kita dinyatakan paling berhasil dan berpengalaman dalam social marketing," kata Nuradi, pemimpin biro iklan Intervista.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tokoh periklanan Indonesia ini cukup mengejutkan sebaian besar peserta Seminar Periklanan Indonesia II, yang diselenggarakan majalah TEMPO, pekan lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi social marketing, promosi yang juga bersifat penyuluhan, itu bukannya tak menemukan rintangan selama ini. Langkanya media dan rendahnya jangkauan serta pengaruhnya terhadap masyarakat muncul sebagai hambatan. Padahal, pesan-pesan seperti ORT (Oral Rehydration Therapy) penanggulangan serangan diare secara darurat, ataupun manfaat air susu ibu dan masalah gizi, teramat penting bagi kesehatan anak-anak. Kini 16% penduduk Indonesia adalah anakanak di bawah usia lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun social marketing seperti yang dilakukan Intervista ini mendapat pujian dari Orsanisasi Kesehatan Dunia (WHO), anggaran yang dikerahkan untuk ltu sebetulnya sangat mlnim. Tahun lampau, misalnya, untuk kampanye jenis ini - yang dikategorikan sebagai Iklan pemermtah - hanya disediakan biaya Rp 3 milyar. Itu, menurut Nuradi, cuma 1,7% dari omset periklanan Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp 176 milyar pada tahun yang sama. "Untuk kampanye KB hanya disediakan Rp 300 juta," kata lulusan Universitas Harvard, AS, yang pernah mempelajari periklanan di Prancis dan Inggris itu, "angka ini sangat kecil dibandingkan dengan biaya promosi yang disediakan pabrik rokok ataupun minuman ringan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar periklanan ini adalah forum kedua yang diselenggarakan TEMPO. Yang pertama diadakan pada 1972. Dihadiri sekitar 50 peserta praktisi periklanan, penerbitan pers, ilmuwan, wakil PWI, SPS, YLK, dan Departemen Penerangan - seminar dua hari pekan silam itu diadakan di Hotel Hyatt Aryaduta, Jakarta. Forum ini berpendapat, untuk menghadapi tantangan masa depan, perlu dirumuskan posisi periklanan Indonesia masa kini. Struktur dan kebijaksanaan pokok periklanan dipandang perlu dibicarakan terlebih dulu, karena ia, kendati hal yang sekunder, sebenarnya subordinated terhadap struktur yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen PPG Deppen, Sukarno S.H. menyatakan kepada para peserta bahwa kebijaksanaan pemerintah untuk periklanan tetap meneruskan yang sudah digariskan selama ini. Perusahaan periklanan, yang kini diakui sebagai "keluarga pers", dalam Dewan Pers yang dilantik Mei lalu menempatkan seorang wakilnya. Tapi hingga kini tampak tak ada persyaratan elas yang harus dipenuhi untuk bergerak di bidang ini. "Sekarang, paling tidak terdapat 150 sampai 200 perusahaan periklanan" kata Kenneth T. Sudarto dari Matari Advertising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga ada belasan perusahaan periklanan multinasional dan transnasional yang beroperasi di sini. Padahal, jumlah anggota Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) konon belum sampai 40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara sebagai wakil media, Jakob Oetama, pemimpin umum dan pemimpin redaksi Kompas, mengingatkan peserta bahwa dalam masa ekonomi surut sekarang yang harus disadari adalah kenyataan tentang jumlah pemasang iklan yang terbatas dan tertentu saja. "Mereka ini adalah orang yang punya disiplin kuat dalam pemikiran ekonomi," kata Jakob. Karena itu, peningkatan jumlah biro iklan di masa surut seperti sekarang, katanya, sangat mungkin menimbulkan masalah dalam ketaatan terhadap "aturan main".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Jakob menyebut dalam enam bulan pertama 1984 terlihat penurunan dalam periklanan, salah satu kertas kerja task force PPPI, Agustus lalu menyajikan angka-angka peningkatan. Omset yang pada 1978 hanya Rp 86 milyar melonjak menjadi Rp 176 milyar pada tahun 1983. Diperkirakan angka tersebut, tahun ini, akan jadi Rp 179,5 milyar. Di Indonesia kini terdapat 590 stasiun pemancar radio siaran swasta niaga dan 267 penerbitan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini", kata Ken Sudarto, "trend persaingan begitu mantap, hingga diperkirakan akan mengubah wajah industri periklanan modern Indonesia pada tahun 80-an ini." Di arena persaingan itu sekarang muncul pula pendatang baru yang langsung sudah punya captive client, yaitu anggota kelompok perusahaannya sendiri dan relasirelasi dekat "Kita harus mengubah diri dan memingkatkan pelayanan,' kata Sudarto tentang strategi untuk bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula seminar ini mehhat pentingnya memperbaiki hubunan biro iklan dengan pengiklan, danmengharapkan kesempatan lebih besar bagi biro itu untuk terlibat langsung dalam menyusun siasat pemasaran bersama kliennya. Pemimpin PT Multi Bintang, Tanri Abeng, juga berpendapat seperti itu. "Agency yang profesional," katanya, "harus bisa berperan sebagal pengatur strategi pemasaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa masalah lain tampaknya harus diselesaikan terlebih dulu. Tolok ukur dalam membicarakan masalah periklanan, menurut forum ini, belumlah jelas. Ia timbul karena kekeliruan informasi, tapi berakibat tidak mendukung pertumbuhan industri periklanan. Juga dilihat pentingnya kerja sama antara berbagal instansi, terutama untuk iklan pelayanan sosial. Partisipasi masyarakat - yang bercorak paternalistis perlu digairahkan disertai rasa tanggung jawab, lewat kelompok yang dapat jadi panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memasarkan produk dalam negeri, misalnya, menurut Menteri Muda UPPPDN, Ginandjar Kartasasmita, "Kampanyenya hendaknya dapat mengubah sikap masyarakat dan menyentuh hati nurani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum ini sepakat segera akan membentuk badan yang mewadahi aspirasi dan upaya iklan layanan masyarakat, agar lebih terarah dan kongkret. Badan ini akan menghimpun unsur biro iklan, pengiklan, media dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: tempo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-8126128652522870778?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/8126128652522870778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/merayu-khalayak-dengan-promosi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/8126128652522870778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/8126128652522870778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/merayu-khalayak-dengan-promosi.html' title='Merayu Khalayak Dengan Promosi'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-875963015965931397</id><published>2008-12-09T15:48:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T16:06:11.900+07:00</updated><title type='text'>PERIKLANAN INDONESIA 1744 - 1984</title><content type='html'>Periklanan Tahun 1960 - 1972&lt;br /&gt;Pada periode ini, perkembangan dunia usaha sudah jauh berbeda dengan situasi zaman kolonial.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Organisasi dan pengelolaan perusahaan-perusahaan yang semula kecil dan sederhana, telah berkembang menjadi besar dan kompleks. Termasuk yang terdapat pada perusahaan-perusahaan periklanan. Telah mulai pula diakui peran dan fungsinya sebagai kepanjangan (extension) dari bagian Pemasaran di perusahaan-perusahaan pengiklan. Bahkan seorang praktisi Pemasaran berani menyatakan, bahwa sukses (baca: efisien dan menguntungkan) pengelolaan suatu perusahaan besar dalam iklim ekonomi saat itu, meletakkan manajemen periklanan sebagai pemegang tanggung jawab terberat. (64) Bahwa dengan menajemen periklanan yang baik, sebuah perusahaan akan mampu beradaptasi lebih jauh ke depan. Karena manajemen periklanan membuat perusahaan bukan saja akan menguasai perencanaan dan organisasinya, namun juga pelaksanaan tugas dan pengendaliannya.&lt;br /&gt;AWAL ORDE BARU&lt;br /&gt;Sementara itu, perusahaan-perusahaan periklanan lainnya pun mulai berkembang. Beberapa perusahaan baru yang cukup besar ikut pula meramaikan periklanan di Indonesia. Produk-produk impor meskipun tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat, tetapi masih lebih banyak dibandingkan situasi sebelum tahin 1960.&lt;br /&gt;Situasi ini tidak bertahan lama, karena sejak tahun 1963 perekonomian Indonesia ternyata semakin parah. Produk-produk impor pun menurun tajam terjadinya konfrontasi politik dengan negara-negara industri utama saat itu, khususnya dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Konfrontasi ini berdampak langsung terhadap perekonomian negara. Hutang luar negeri relatif sangat tinggi dan inflasi pun merajalela hingga ke puncaknya ketika mencapai sekitar 65%. Dalam situasi seperti itu, tentu sulit bagi sesuatu perusahaan untuk dapat berkembang. Begitu pula yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan periklanan. Kalau terjadi peningkatan, namun dengan situasi moneter yang sangat buruk, tentu saja setiap perkembangan yang terjadi di suatu perusahaan menjadi semu sifatnya. Situasi ini berjalan terus hingga tahin 1966, awal munculnya pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto.&lt;br /&gt;PERINTIS PERIKLANAN MODERN&lt;br /&gt;Orde Baru ternyata cukup sigap mengembalikan kestabilan politik dan ekonomi dalam negeri. Selain berupaya keras mengendalikan inflasi, Pemerintah juga membuka peluang sebesar-besarnya bagi investasi baru. Konfrontasi dengan negara-negara liberal pun lambat-laun dihapuskan dan membuka lagi peluang bagi perdagangan luar-negeri yang lebih terbuka dan dinamis. Lebih lagi setelah Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) disahkan, telah sangat merangsang investasi dalam negeri dan menjamin adanya kepastian berusaha. &lt;br /&gt;Di tahun 1967, tahun yang sama dengan dikeluarkannya Undang-undang PMDN tersebut, di Jakarta lahir perusahaan periklanan InterVisa Ltd. Inc., yang didirikan dan dikelola oleh Nuradi. InterVisa dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia. InterVisa pula yang dianggap menjadi perusahaan periklanan pertama yang beroperasi dalam kapasitas pelayanan periklanan menyeluruh (full service advertising agency).&lt;br /&gt;Setahun setelah diundangkannya Undang-undang PMDN, dikeluarkan pula Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) yang mengatur tata cara penanaman modal asing di Indonesia. Undang-undang ini bukan saja memberi jiwa keterbukaan pada masuknya modal asing, tetapi juga telah lebih merangsang lagi peningkatan investasi di Indonesia. Undang-undang PMA ini bahkan memberi dampak langsung pada peningkatan tajam bisnis periklanan. Investasi oleh para pemodal asing rupanya membawa konsekuensi lain bagi periklanan. Para pemodal ini yang umumnya sudah terbiasa dengan sistem perekonomian dan perdagangan liberal, rupanya menuntut adanya pula sarana promosi dan periklanan yang baik di Indonesia.&lt;br /&gt;Para praktisi periklanan umumnya berpendapat ada hubungan langsung antara aspek -aspek investasi,dan periklanan dalam arti yang luas. Karena itu, tuntutan para investor asing ini tentu saja wajar untuk mengamankan investasi mereka,dengan meningkatkan efisiensi produksi(mencapai tingkat skala ekonomi tertentu ) dan dengan dukungan promosi dan periklanan menjamin tercapainya sasaran-sasaran pemasara barang atau jasa yang mereka hasilkan. (Penyusun).&lt;br /&gt;Sebagai perusahaan periklanan modern. InterVisa juga tercatat aktif dalam membantu kampanye-kampanye pemasaran sosial ( social marketing ) atau periklanan layanan masyarakat (public service advertising). Kampanye-kampanye ini merupakan sesuatu ayng baru bagi masyarakat Indonesia di masa itu.&lt;br /&gt;Salah satu karya besar InterVisa yang bahkan tetap digunakan hingga saat ini adalah Kartu Menuju Sehat. Sebuah petunjuk sangat praktis bagi para ibu untuk memeriksa dan merawat kesehatan bayinya.&lt;br /&gt;Munculnya InterVisa rupanya menjadi katalis bagi lahirnya banyak lagi perusahaan periklanan modern di Indonesia. Bahkan tahun 1969 berdiri pula Benson SH Ltd., perusahaan periklanan pertama yang berafiliasi dengan perusahaan periklanan asing di Indonesia. Perusahaan periklanan ini tadinya sekedar merupakan afilasi dari perusahaan yang sama di Singapura, tetapi kemudian dikembangkan menjadi afiliasi langsung dengan perusahaan periklanan induknya di New York dan berubah nama menjadi Ogilvy Benson &amp; Mather Indonesia. Selanjutnya karena ada peraturan yang tidak mengizinkan perusahaan periklanan asing Indonesia, perusahaan ini mengubah statusnya menjadi perusahaan Indonesia, sekaligus mengganti namanya menjadi PT Indo Ad .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.pppi.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-875963015965931397?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/875963015965931397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/sejarah-periklanan-indonesia-1744-1984.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/875963015965931397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/875963015965931397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/sejarah-periklanan-indonesia-1744-1984.html' title='PERIKLANAN INDONESIA 1744 - 1984'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-2999334969611915765</id><published>2008-12-09T15:05:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T15:08:15.413+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Periklanan</title><content type='html'>Sebuah tulisan untuk mengapresiasi karya yang jarang mendapat perhatian saya..iklan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Metode iklan pertama yang dilakukan oleh manusia sangat sederhana. Pemilik barang yang ingin menjual barangnya akan berteriak di gerbang kota menawarkan barangnya pada pengunjung yang masuk ke kota tersebut. Iklan tulis mulai dikenal pada jaman Yunani Kuno, berisi tentang budak-budak yang lari dari majikannya atau memberitahu akan berlangsungnya pertandingan gladiator. Iklan pada jaman ini hanya berupa surat edaran. Beberapa waktu kemudian mulai muncul metode iklan dengan tulisan tangan dan dicetak di kertas besar yang berkembang di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan pertama yang dicetak di Inggris ditemukan pada Imperial Intelligencer Maret 1648. Sampai tahun 1850an, di Eropa iklan belum sepenuhnya dimuat di suratkabar. Kebanyakan masih berupa pamflet, leaflet, dan brosur. Iklan majalah pertama muncul dalam majalah Harper tahun 1864. Pada masa-masa itu, periklanan berkembang seiring perkembangan pers yang juga ditandai berkembangnya perusahaan periklanan dengan fungsi sederhana. Pada abad ke-18, beberapa toko di Eropa mulai berfungsi sebagai agen yang mengumpulkan iklan untuk suratkabar. Pada abad ke-19 mulai dikenal pembelian ruang iklan melalui agen perseorangan (menyalurkan lagi ke perusahaan periklanan). Setelah 1880an, perusahaan periklanan meningkatkan fungsi dengan menawarkan konsultasi dan jasa periklanan lain. Pada peralihan menuju abad ke-20, sistem manajemen periklanan modern seperti posisi manajer iklan mulai diterapkan.Periklanan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RTS Masli dalam pengantar buku Reka Reklame menjelaskan bahwa iklan pertama di Indonesia hanya berupa sebuah pengumuman mengenai kedatangan kapal dagang Bataviaasche Nouvelles tahun 1744. Pemanfaatan iklan menunjang pemasarannya antara lain dilakukan oleh surat kabar Bientang Timoor dengan iklan yang berbunyi: “Siapa siapa njang biasa trima soerat kabar bernama Bientang Timoor soeka diteroeskan ini taon 1865, dikasi taoe njang oewangnja itoe soerat kabar, harganja f.15, - bole lekas dikirimkan sama njang kloewarken itoe soratkabar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan iklan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh modal swasta di sektor perkebunan dan pertambangan pada tahun 1870. Pada jaman ini, beredar iklan brosur untuk pertama kalinya. Iklan tersebut berisi promosi perusahaan komersial. Selain brosur, digunakan pula iklan display.Pada awal abad 20, biro reklame mulai bermunculan walau tidak bertahan lama karena masalah perekonomian. Biro reklame pada masa itu dapat dikelompokkan dalam kategori besar (biasanya dimiliki oleh orang Belanda), menengah, dan kecil (dimiliki oleh orang Tionghoa dan bumiputera). Biro reklame Indonesia kembali bangkit sekitar 1930-1942. Iklan yang dikeluarkan semakin beragam ( pencarian kerja, pernikahan, kematian, serta perjalanan). Iklan juga sempat menjadi sarana propaganda Jepang di Indonesia. Berbagai poster dan selebaran mengkampanyekan Jepang sebagai “Pelindung, Cahaya, dan Pemimpin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada masa itu tetap banyak iklan lain seperti pasta gigi, batik, tawaran kursus dan tak ketinggalan iklan bioskop yang menayangkan film Jepang. Pasca kemerdekaan, muncul iklan himbauan untuk menyumbangkan dana bagi kepentingan perjuangan, pertahanan kemerdekaan, pembangunan atau perbaikan sekolah dan mengaktifkan BPKKP. Iklan ini tercatat sebagai iklan layanan masyarakat pertama dalam sejarah periklanan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1963, berdiri perusahaan periklanan InterVista Ltd yang dikelola (sekaligus didirikan) oleh Nuradi, mantan diplomat yang pernah bekerja di perusahaan periklanan SH Benson cabang Singapura. Perusahaan ini dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia dengan pelayanan menyeluruh seperti media planning, account management, riset, dan bidang lain.Saat ini, berbagai perusahaan periklanan di Indonesia tergabung dalam suatu asosiasi yaitu PPPI. Asosiasi perusahaan periklanan ini terwakili pula dalam keanggotaan Dewan Pers yang secara resmi dituangkan dalam UU No. 4 Tahun 1967. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.users.muohio.eduPersatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. (2004). Reka Reklame, Sejarah Periklanan Indonesia 1744 – 1984. Yogyakarta: Galangpress. http://halamansatu.net&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-2999334969611915765?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/2999334969611915765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/sejarah-periklanan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/2999334969611915765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/2999334969611915765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/sejarah-periklanan.html' title='Sejarah Periklanan'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-266116755226819498</id><published>2008-12-09T15:01:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T15:03:11.535+07:00</updated><title type='text'>Sukses Menjual Kreativitas</title><content type='html'>Gunadi Sugiharso, Chairman dan CEO LOWE:&lt;br /&gt;Sukses Menjual Kreativitas&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berubah menjadi LOWE pada Februari 2002, perusahaan iklan papan atas ini dikenal dengan nama Citra Lintas. Kalangan yang mengenal dan berhubungan dengan Citra Lintas, pasti akan mengakui keunggulan perusahaan ini dalam hal kreativitas. Oleh karena kreativitaslah, Citra Lintas bisa memimpin perolehan belanja iklan beberapa tahun terakhir. ”Kami akan terus kreatif,” kata Gunadi Sugiharso, Chairman dan CEO Citra Lintas yang kini berganti nama LOWE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gunadi, yang lahir di Pekalongan, 31 Desember 1944, LOWE merupakan perusahaan iklan yang didirikan oleh Sir Frank Lowe di Inggris pada 1981. Nama perusahaan iklan itu diambil dari namanya dan dikenal luas dengan nama LOWE &amp; Partners.&lt;br /&gt;Hanya dalam waktu singkat, perusahaan ini telah berkembang pesat dan terkenal karena kreativitasnya. Ini dibuktikan dengan diraihnya sejumlah penghargaan atas krativitas iklan yang dibuatnya. Penghargaan paling bergengsi adalah ketika LOWE memenangkan Grand Prix Award secara berturut-turut pada 1999 dan 2000 festival iklan sedunia di Cannes, Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Lintas ke LOWE&lt;br /&gt;LOWE &amp; Partners telah menjadi perusahaan iklan kaliber internasional ketika bergabung dengan Interpublic Group of Companies, suatu perusahaan publik di Amerika Serikat, yang memfokuskan dirinya pada bidang komunikasi pemasaran. Perusahaan iklan kaliber internasional yang tergabung dalam grup ini antara lain McCann, Erickson, FCB, Amiratis Puris Lintas, Initiative Media, Draft, dan Zipatoni.&lt;br /&gt;Pada 1999, Interpublic yang berpusat di Amerika melihat potensi yang besar jika Ammirati Puris Lintas digabungkan dengan LOWE &amp; Partners. Penggabungan kedua perusahaan tersebut menjadi Lowe Lintas &amp; Partners. Namun akhir 2001, para pendiri perusahaan memperoleh gagasan untuk meluncurkan nama baru yang lebih efisien dan gampang diingat: LOWE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan Favorit: Geng Hijau&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apa saja produk perusahaan iklan ini barangkali bisa dijelaskan seperti ini. Kalau kita senang menonton program acara televisi seperti RCTI, SCTV, atau INDOSIAR, kita akan menyaksikan film iklan Pepsodent yang menceritakan tentang dua anak yang suka menikmati permen favorit, terutama saat jauh dari pengawasan ibunya.&lt;br /&gt;Mereka tahu hal itu tidak baik untuk gigi mereka dan mereka juga menyadari betapa khawatirnya si ibu akan apa yang mereka makan, saat mereka berada di luar pengawasan ibu. Naluri seorang ibu untuk melindungi, menjadi pengawas dari kebiasaan makan agar kesehatan mulut tetap terjaga.&lt;br /&gt;Kenyataan ini digambarkan dengan baik dalam iklan Pepsodent. Iklan yang didukung bintang cilik Tasya cukup populer. Iklan Pepsodent memiliki beberapa seri cerita dan cukup menarik untuk ditonton.&lt;br /&gt;Iklan favorit lain adalah iklan rokok Sampoerna Hijau, suatu produk rokok yang pangsa pasarnya sedang menurun. Iklannya semula tidak memiliki fokus dan tidak menarik. LOWE berhasil menggambarkan suatu kebersamaan dan kesederhanaan pada Geng Hijau. Kalau dibandingkan dengan iklan rokok lain yang menonjolkan pria yang kuat dan pahlawan dalam situasi yang tidak masuk akal.&lt;br /&gt;Menurut data dari Sampoerna, omset penjualan rokoknya meningkat tajam setelah pemuatan iklan Gang Hijau di berbagai media televisi.&lt;br /&gt;Film-film iklan yang diproduksi LOWE memiliki ciri khusus, yaitu pada kreativitasnya. Pemirsa televisi yang biasanya akan berganti saluran jika terjadi break iklan, justru untuk iklan Pepsodent dan Sampoerna Hijau, mereka akan menyaksikan terus. Iklannya memberikan suguhan humor yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentalitas Kreatif&lt;br /&gt;Ada cerita menarik ketika Lintas akan berganti nama LOWE. Ini terjadi akhir Februari 2002 lalu. Untuk membuat acara pergantian Lintas ke LOWE, manajemen menyusun suatu acara yang unik. Yang tahu dan menyusun acara unik ini hanya sekitar 8 orang.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, 25 Februari 2002, karyawan disuruh kumpul di kantor LOWE di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Berita yang disebarkan melalui SMS singkat saja. Karyawan harap berkumpul pukul delapan pagi karena di kantor ada masalah.&lt;br /&gt;”Ini berita yang mengejutkan buat para karyawan,” kata Gunadi serius. Para karyawan yang mendapatkan SMS sehari sebelumnya mencoba menghubungi para pimpinannya, tetapi semua akses ditutup. Keesokan harinya, para karyawan datang ke kantor dan terkejut karena kantor mereka di jaga dua petugas polisi dan pintu masuknya disegel. Ada pengumuman yang mengatakan bahwa seluruh karyawan diminta berkumpul di Bulungan. Untuk keperluan itu, Direktur Personalia telah menyediakan metromini untuk membawa mereka menuju Bulungan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;Di dalam stadion olah raga Bulungan, para karyawan dengan rasa was-was telah duduk menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan perusahaan mereka. Para pendiri perusahaan, termasuk Gunadi, menyuguhkan wajah yang muram memberi kesan bahwa perusahaan sedang berada dalam keadaan sulit.&lt;br /&gt;Pada saat semua sudah berkumpul, Robby Djohan, salah satu pendiri perusahaan diminta untuk tampil ke podium untuk memberikan penjelasan. Robby Djohan dengan raut muka muram memberikan sambutan.&lt;br /&gt;Robby menjelaskan, perusahaan sedang berada di simpang jalan dan meminta kepada Pimpinan Perusahaan untuk memberi penjelasan . Gunadi dan Eleanor menjelaskan bahwa tidak ada jalan lain kecuali harus terus bekerja keras, kreatif, dan disiplin. Intinya Gunadi dan Eleanor menjelaskan bahwa perusahaan sedang melakukan simulasi dan yang ditutup adalah nama LINTAS.&lt;br /&gt;Hari ini nama perusahaan akan diubah dari LINTAS menjadi LOWE. Dan sejak saat itu, Lintas pun berganti nama dengan LOWE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendengar bahwa inti acara itu hanyalah pemberitahuan perubahan nama dari Lintas ke LOWE, para karyawan pun terharu dan bersorak bertepuk tangan. Namun, masih ada di antara mereka yang sempat menangis terharu.&lt;br /&gt;”Kami harus terus menerus meningkatkan kreativitas dan tidak boleh cepat puas diri. Good is the enemy of the great, kata Gunadi.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya ia mengambil slogan yang berbunyi: Creativity Pays. Kreativitas akan menghasilkan sesuatu buat klien dan juga buat diri sendiri.&lt;br /&gt;Menurut Gunadi, seluruh karyawannya harus memiliki mentalitas yang kreatif. Untuk itu, perusahaan memberikan training-training seperti: Berpikir kreatif dan Mentalitas Kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap di Urutan Pertama&lt;br /&gt;LOWE tahun lalu ketika masih bernama Lintas merupakan perusahaan iklan yang berada di urutan pertama perolehan iklan 2000 dan 2001. Dari sepuluh perusahaan iklan terkemuka, LOWE tahun 2000 meraup belanja iklan sebesar Rp 409 miliar . Urutan kedua adalah Matari yang meraup belanja iklan sekitar Rp 152 miliar. Selanjutnya urutan ketiga Indo Ad dengan hasil sekitar Rp 144 miliar.&lt;br /&gt;Menurut Gunadi, prospek bisnis periklanan di Indonesia tetap saja menarik dan semarak. Kue iklan yang diperebutkan perusahaan-perusahaan periklanan yang dicatat oleh ACNielsen, tahun 2001 adalah sekitar Rp 9,7 triliun. Jumlah ini meningkat tajam dari tahun 2000 yang berjumlah sekitar Rp 7,8 triliun.&lt;br /&gt;”Prospek periklanan Indonesia di masa depan sangat besar. Jumlah penduduk Indonesia yang merupakan negara dengan populasi penduduk nomor empat di dunia, merupakan pasar yang sangat potensial dan menarik banyak investor” kata Gunadi. Ia selanjutnya memprediksi pertumbuhan sektor periklanan akan mencapai lebih dari 20 persen/tahun. Namun khusus 2002 ini, menurut Gunadi diperkirakan hanya sekitar 15 persen.&lt;br /&gt;”Ini antara lain disebabkan masih adanya ketidakpastian di bidang politik dan ekonomi, dan ditambah lagi bencana alam seperti banjir yang melanda Indonesia awal Februari lalu yang merusak jalan-jalan. Kerusakan jalan-jalan mengganggu arus distribusi barang. Selain itu, resesi ekonomi global juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.” Kata Gunadi yang sudah berkerja di Grup LINTAS selama 28 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Periklanan Indonesia&lt;br /&gt;Seandainya ada suatu universitas yang khusus di bidang periklanan, maka Lintas atau sekarang namanya LOWE boleh dibilang salah satunya. Perusahaan ini sejak berdiri 1974 masih berada di bawah PT Unilever dan kemudian berdiri sendiri pada 1983 dengan masuknya Robby Djohan, Soedarpo, dan Idham, telah meluluskan tenaga-tenaga profesional periklanan.&lt;br /&gt;”Kami mendidik sebagian besar sarjana yang baru lulus dan setelah mereka berhasil mendapatkan pengalaman, banyak di antara mereka yang di ”bajak” perusahaan iklan lain” kata Gunadi yang memiliki tiga orang putri. Dari wajahnya yang berseri-seri tersirat rasa bangga karena telah mencetak ahli-ahli periklanan.&lt;br /&gt;”Ya, sekarang banyak di antara mereka telah menjadi pemimpin di perusahaan iklan atau media” tambah Gunadi.&lt;br /&gt;Karena banyak mencetak ahli-ahli periklanan, LOWE sebenarnya layak disebut semacam ”Universitas Periklanan Indonesia.”&lt;br /&gt;Menurut Gunadi, Indonesia masih membutuhkan tenaga-tenaga profesional dalam bidang periklanan, terutama untuk mengantisipasi pertumbuhan bisnis yang setiap tahun bertumbuh. Selain itu juga untuk mengantisipasi globalisasi.&lt;br /&gt;Ia juga menunjuk pada membaiknya perekonomian Amerika Serikat. Jika perekonomian Amerika pulih, ini akan berdampak juga pada perekonomian Indonesia. ”Yang penting pemerintah harus mengambil tindakan yang menuju pada perbaikan,” kata pria yang gemar membaca buku menutup wawancara dengan SH di ruang kantornya.&lt;br /&gt;(audrey g tangkudung&lt;br /&gt;Mengawali Karier dari AE&lt;br /&gt;Gunadi Sugiharso, lahir di Pekalongan, 31 Desember 1944. Ia menikah dengan Juliati Tedjasasmita dan memperoleh tiga orang putri. Yang pertama adalah Arty, kedua Monica, dan bungsu Karina.&lt;br /&gt;Sebenarnya, Gunadi punya obsesi menjadi insinyur, sehingga ia masuk Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahyangan, Bandung pada 1963. Tertarik pada dunia iklan dan media komunikasi karena sejak menjadi mahasiswa aktif mengelola majalah mahasiswa..&lt;br /&gt;Pada 1972, bersama beberapa kawan mendirikan biro iklan Publica Advertising di Bandung. Pada saat itu ekonomi masih sulit. Biro iklan Publica belum bisa berkembang sehingga ia hijrah ke Jakarta.&lt;br /&gt;Pada 1974, PT Unilever mencari tenaga Account Executive (AE) dan ia pun melamar. Ia mengikuti tes dan lulus menjadi karyawan LINTAS Jakarta, yang merupakan departemen periklanan Unilever Indonesia.&lt;br /&gt;”Saya akhirnya tertarik pada dunia periklanan. Bidang periklanan relatif masih baru, belum banyak ahlinya. Kalau insinyur kan sudah banyak ahlinya,” kata Gunadi, yang senang dengan olah raga golf dan berwisata petualang. Setelah di LINTAS Jakarta, ia pun mulai berhubungan dengan beberapa produk consummer goods, seperti Johnsons &amp; Johnsons, Bayer, dan Ovaltine, selain produk-produk Unilever.&lt;br /&gt;Pada 1979 hingga 1983 ia ditunjuk menduduki posisi sebagai salah satu Direktur yang menangani bidang media. Dan setelah Lintas keluar dari PT Unilever, beberapa tahun terakhir ini Gunadi menduduki posisi Presiden Direktur dan Chairman Grup Lintas yang kini berubah namanya menjadi LOWE. &lt;br /&gt;sumber :www.tokoh indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-266116755226819498?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/266116755226819498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/sukses-menjual-kreativitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/266116755226819498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/266116755226819498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/12/sukses-menjual-kreativitas.html' title='Sukses Menjual Kreativitas'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-1057710571127237953</id><published>2008-11-05T21:43:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T15:22:45.666+07:00</updated><title type='text'>Michael D Sudarto 'Terjerumus' di belantara iklan</title><content type='html'>Sore itu usai kesibukan rutinnya di kantor, Michael D Sudarto menemui tamunya di salah satu ruang pertemuan Puri Matari di kawasan Kuningan, Jakarta. Dia menyodorkan buku dengan cover warna biru langit bergambar sebuah papan besar di atas padang rumput hijau dengan tulisan Tanah Ini Milik Periklanan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Buku berjudul Rumah Iklan yang ditulis oleh Bondan Winarno itu merekam episode demi episode perjalanan Ken T Sudarto dan rumah iklan Matari serta upayanya menjadikan periklanan Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. &lt;br /&gt;Nama besar sang ayah, Ken T Sudarto, memang bukan hanya identik dengan perusahaan periklanan Matari Advertising, malainkan juga sejarah panjang bisnis periklanan modern di Tanah Air yang sejak zaman Belanda praktisinya didominasi bangsa asing. &lt;br /&gt;Seperti sang pelopor, Michael mengaku juga mempunyai tekad yang sama untuk menjadikan perusahaan periklanan di Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Itulah sebabnya deputy president Matari Advertising ini memberikan perhatian penuh pada peningkatan SDM yang andal di bidangnya. &lt;br /&gt;Di tengah maraknya serbuan perusahaan asing yang menggarap kue iklan di Indonesia, bapak dari dua orang putri ini bertekad agar perusahaan yang dipimpinnya tidak hanya mendapat kepercayaan dari klien, tetapi juga tetap bisa menerapkan falsafah bisnis yang disebut Panca Cita atau lima harapan yang ingin diwujudkan perusahaan. &lt;br /&gt;"Lima harapan itu antara lain, kami ingin ikut berperan dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab, mengabdi pada kepentingan masyarakat dan menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan," tuturnya. &lt;br /&gt;Tidak mudah memang menerapkan nilai-nilai dasar yang sudah ditanamkan para pendahulunya itu. Yang jelas, perjalanan hidup Matari tetap eksis selama 37 tahun adalah buah dari penerapan Panca Cita itu. &lt;br /&gt;Pedoman berkarya itu selalu menjadi acuan bagi praktisi yang berkarya di dalamnya terutama untuk menciptakan hasil yang bermutu, jujur, sesuai dengan lingkungan, dan bersungguh-sungguh mencerminkan pengabdian pada kepentingan masyarakat. &lt;br /&gt;"Panca Cita itu juga memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Sejak berdiri komitmen terhadap pengembangan SDM memang tinggi dan kami menyediakan biaya bagi staf untuk terus melakukan personal development lewat pendidikan dan pelatihan hingga ke luar negeri." &lt;br /&gt;Tidak heran di lingkungan insan ataupun industri periklanan, Matari mendapat julukan sebagai 'sekolah'nya para profesional unggulan di bidang ini.Hal ini selain dengan sengaja mendorong setiap individu untuk maju juga karena perusahaan menciptakan iklim kerja yang penuh dengan persaingan ketat dan sehat di lingkungan internal. &lt;br /&gt;Seperti masuk dalam kawah candradimuka, para praktisi yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menggarap proyek klien dituntut siap belajar dan berlatih dari kasus-kasus yang dihadapi, sehingga bisa berkompetisi dan menghasilkan yang terbaik. &lt;br /&gt;Michael termasuk orang yang mendapat kepercayaan untuk menyiapkan manajemen dan menciptakan daya saing di lingkungan internal. Mulai 2004 hingga sekarang dia merangkap jabatan sebagai president director Pantarei Communications yang otonom. &lt;br /&gt;Mulai dari bawah &lt;br /&gt;Di Pantarei dengan 80 staf, dia harus bersaing menghadapi perusahaan induk untuk menangani klien-klien sendiri, antara lain PT Softex Indonesia, Wismilak, Bank Mandiri, Hutchison Telecom Indonesia, Es Teller 77 dan produk pendidikan Bina Nusantara. &lt;br /&gt;Kehadiran Michael di jajaran pimpinan Matari bukan semata-mata karena meneruskan bisnis sang ayah. Seperti pimpinan lainnya, diapun memulai kariernya dari bawah dan suami dari Rani Sofyan ini sejak 1992 bergabung dalam perusahaan. &lt;br /&gt;"Sejak kecil memang sudah terjerumus pada dunia periklanan karena setiap aktivitas papa tak lepas dari urusan iklan atau perusahaan. Jadi, tamat SMA sambil kuliah di AS, saya gunakan waktu libur untuk magang dulu di Matari," tuturnya. &lt;br /&gt;Di University of Minnesota, Michael belajar soal ekonomi dan statistik. Dia lalu kembali ke Matari menjadi account executive untuk direct marketing dan sales promotion. Pada 1997, dia kembali ke bangku kuliah. Kali ini untuk meraih master of science di bidang jurnalisme dan advertising. &lt;br /&gt;Masih pada tahun yang sama, dia juga menimba pengalaman di perusahaan iklan di Inggris menjadi junior account executive di AMV BBDO, London. Kembali ke Tanah Air, kariernya di Matari setahun kemudian naik menjadi media executive lalu menjadi account manager dan pada 2001-2003 menjadi account director. &lt;br /&gt;Sebagai orang yang dipercaya pula menangani masalah SDM di Matari, Michael merasa beruntung para senior yang berada di perusahaan berdiri pada 1971 adalah orang yang memiliki passion yang tinggi di bidang periklanan. &lt;br /&gt;"Mereka sangat membantu proses alih generasi sehingga kami tidak sekadar tetap eksis tetapi juga harus tetap di ranking lima besar perusahaan periklanan di Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negri sendiri." &lt;br /&gt;Kini pihaknya berusaha menjaga kenyamanan bekerja yang sangat diperlukan oleh individu-individu di dalamnya untuk berkreativitas secara optimal serta menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan dan tanggung jawab untuk menyatukan latar belakang, keahlian dan ketrampilan yang berbeda. &lt;br /&gt;"Kita hidup harus punya tanggung jawab, sebagai seorang ayah, kepala keluarga, sebagai karyawan pun punya tanggung jawab profesional untuk mencapai target-target yang ingin dicapai," &lt;br /&gt;Rasa tanggung jawab inilah yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Ayah dari Allegra Divya yang berumur 10 tahun dan Alexa Divya, 7, ini memilih berkunjung ke panti asuhan, ke komunitas keagamaan, ke vihara, pesantren, dan gereja sebagai bentuk tanggung jawab individu bahwa dalam harta si kaya ada hak si miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&lt;br /&gt;Hilda Sabri Sulistyo&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-1057710571127237953?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/1057710571127237953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/11/michael-d-sudarto-terjerumus-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/1057710571127237953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/1057710571127237953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/11/michael-d-sudarto-terjerumus-di.html' title='Michael D Sudarto &apos;Terjerumus&apos; di belantara iklan'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4288562611421739680.post-4349908923203912028</id><published>2008-11-05T21:28:00.002+07:00</published><updated>2008-11-06T10:22:45.297+07:00</updated><title type='text'>Semarak Dunia Agency</title><content type='html'>Belakangan ini agency menjadi industri yang paling diminati di Jakarta. Konon, gaya hidup penuh hura-hura dan kemewahan meliputi dunia ini. Praktisinya pun terkenal ‘gila kerja’ dan penganut paham ‘ajeg-ajeg, suka-suka semau gue’. Benarkah? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada apa sih di balik industri ini? Mengapa para profesional Jakarta tampak berlomba-lomba menggelutinya?&lt;br /&gt;Edisi kali ini akan mengungkapkan kehebohan dunia agency, supaya kamu yang tertarik atau penasaran pada dunia ini bisa dapat gambaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia, agency diartikan sebagai agen atau peratara. Dalam prakteknya sendiri, agency meliputi beberapa bidang, termasuk Advertising Agency (Biro Iklan), Media Agency, dan Talent Agency. Selain itu, agency juga bersentuhan, bahkan acap kali, membelah diri menjadi bidang-bidang lain, seperti Production House (PH), Public Relation (PR), dan Event Organizer (EO).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVERTISING AGENCY&lt;br /&gt;Advertising agency pertama kali berkembang di belahan dunia Eropa-Amerika pada abad ke-19 sebagai imbas dari era kapitalisme. Di Indonesia, industri ini mulai bermunculan pada tahun 70-an dan semakin marak ketika stasiun TV pertama hadir di Indonesia. Lwin dan Aitchison dalam buku mereka yang berjudul Clueless in Advertising mendeskripsikan advertising atau iklan sebagai elemen penting dalam mengomunikasikan sesuatu (produk, brand, atau pesan) kepada konsumen melalui media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tubuh Advertising terdapat departemen-departemen utama yang saling mendukung, yaitu Media Service, Account Service, dan Creative Department.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Advertising pun ada yang memberikan full service, yaitu yang menangani keseluruhan materi iklan, mulai dari strategi, kampanye promosi dan pembuatan iklan itu sendiri, sampai ke media. Jenis seperti ini biasa dipegang oleh agency multinasional, seperti BBDO, Ogilvy &amp; Mather, dan McCann Erickson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula agency jenis kedua yang biasa disebut specialist agency, yang menangani salah satu bidang tertentu saja, biasanya bidang media atau kreatif saja. Bidang kreatif ada yang hanya memberi service tertentu, misalnya above-the-line (iklan-iklan di surat kabar, majalah, televisi, radio, poster, dan lain-lain) saja, atau below-the-line (promosi-promosi lain yang menunjang kampanye iklan yang tidak menggunakan media, seperti sales promotions, merchandising, dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Advertising sering kali disarukan dengan Public Relations (PR). Memang kedua industri ini sama-sama mengomunikasikan sesuatu kepada publik.Tetapi ada perbedaan mendasar antara advertising dengan PR, yaitu PR tidak membeli space media dan PR tidak menjual sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Client Service Department&lt;br /&gt;Departemen ini adalah departemen yang berhubungan langsung dengan klien. Oleh karena itu, praktisinya sering disebut sebagai front liner yang merupakan bagian penting dari sebuah advertising agency. Tugas seorang Account Service atau Account Executive (AE) tidak sekedar men-service klien, tetapi juga bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelancaran marketing dan bisnis klien. Seorang AE yang baik peduli terhadap permasalahan bisnis klien, dapat menganalisisnya, kemudian membuat strategi dan brief yang baik untuk pihak kreatif agar permasalahan tersebut mendapatkan solusi, berupa materi iklan yang kreatif yang mampu mendongkrak penjualan, maupun image produk klien tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan Karir dan Job Desk:&lt;br /&gt;1.Junior Account Executive&lt;br /&gt;2.Account Executive&lt;br /&gt;3.Senior Account Executive&lt;br /&gt;4.Assistant Account manager: Membantu Account manager untuk client handling, menganalisis brand, membuat strategi komunikasi, menulis creative brief, media brief, dan lain-lain.&lt;br /&gt;5.Account Manager: Client handling, menganalisis brand, membuat strategi komunikasi, menulis creative brief, media brief, dan lain-lain.&lt;br /&gt;6.Associate Account Director&lt;br /&gt;7.Account Director: Menganalisis brand dan merencanakan strategi komunikasi yang efektif untuk brand itu. Selain itu juga client hunting.&lt;br /&gt;8.Account Group Director: Membawahi beberapa Account Director.&lt;br /&gt;9.Account Management Director: Membawahi semua divisi Client Service, menyusun target dan mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creative Department&lt;br /&gt;Creative Department atau divisi kreatif merupakan tim yang terdiri dari Copywriter dan Art Director.Tugas mereka mencari dan membuat ide serta konsep bagi kampanye iklan produk yang akan dijual kepada klien. Tugas mereka sangat berat dengan multiple deadline yang sangat ketat dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Brainstrom (proses pengumpulan ide oleh tim) dan pitch (semacam tender antar-adv, yaitu adu kreativitas untuk memenangkan sebuah brand) adalah makanan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, sering kali orang-orang kreatif dianggap unik dan aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Creative Director MACS 909 Agency yang menangani iklan-iklan seperti Djarum Black, Sutra Kondom, Matahari, KitKat, Permen Polo, dan Foxs bekerja di advertising sangat menantang dan menegangkan. Banyak asyik, tapi tidak sedikit pula tidak enaknya. ”Asyiknya ketika kita bisa menciptakan hal-hal baru yang kreatif, apalagi kalau ide-ide tersebut diterima oleh klien. Terlebih lagi, kalau ide-ide kita jadi bahan pembicaraan orang. Diapresiasi oleh masyarakat, kemudian mendapat penghargaan dari sisi kreativitas. Waaaaaaahhhh...,” kata laki-laki yang banyak mendapat penghargaan kreatif, baik emas, perak, maupun perunggu di Citra Pariwara, Phinastika Award, dan AdDone Award. Sebaliknya, tidak enaknya adalah apabila ide kita ditolak klien. Deadline yang sangat ketat juga menjadi masalah, apalagi ketika ide sedang mentok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan karir dan Job Desk:&lt;br /&gt;1.Junior Copywriter &amp; Junior Art Director&lt;br /&gt;2.Senior Copywriter &amp; Senior Art Director, bertugas untuk menyusun konsep dan mengeksekusi materi kreatif. Copywriter bertanggung jawab pada penulisan naskah dan Art Director lebih bertanggung jawab pada visual. Tapi, kedua-duanya adalah orang tua kandung dari sebuah karya kreatif.&lt;br /&gt;3.Creative Group Head, mengoordinir Copywriter dan Art Director dalam menyusun dan mengeksekusi materi kreatif, juga memastikan semua selesai dalam kerangka deadline yang sudah ditentuin. Dia juga bertanggung jawab dalam kualitas (quality control).&lt;br /&gt;4.Associate Creative Director, membantu Creative Director mengarahkan tim kreatifnya, dalam menyusun konsep dan mengeksekusi karya kreatif, menjaga kualitas kreatif, menyusun dan mencapai target kreatif, dan lain-lain.&lt;br /&gt;5.Creative Director: Mengarahkan tim kreatifnya, dlm menyusun konsep dan mengeksekusi karya kreatif, menjaga kualitas kreatif, menyusun dan mencapai target kreatif, dan lain-lain.&lt;br /&gt;6.Executive Creative Director: Membawahi divisi kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDIA AGENCY/MEDIA BROKER&lt;br /&gt;Media Department bertugas membuat rancangan strategi media yang efektif bagi klien serta bernegosiasi dengan media. Departemen ini kini mulai memisahkan diri dari divisi kreatif dan account management, kemudian mulai berdiri sendiri. Di Jakarta terdapat media agency besar seperti Mindshare, Initiative, Megapro, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan Karir dan Job Desk:&lt;br /&gt;1.Media Planner (junior sampai senior): Membuat perencanaan media placement materi kreatif dari sebuah brand, secara efektif dan efisien).&lt;br /&gt;2.Media Buyer (junior sampai senior): Melakukan negosiasi dan melakukan pembelian space media).&lt;br /&gt;3.Media Group Head: Mengoordinir kedua di atas.&lt;br /&gt;4.Assistant Media Manager&lt;br /&gt;5.Media Manager&lt;br /&gt;6.Associate Media Director&lt;br /&gt;7.Media Director&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan divisi ini nanti berkesempatan untuk masuk ke karir berikutnya, yaitu: General Manager, Managing Director, Vice President, lalu President Director.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TALENT/MODEL AGENCY&lt;br /&gt;Talent/Model Agency menunjang kedinamisan dan semaraknya dunia entertainment. Agency ini memberikan jasa pelayanan yang berhubungan dengan apa pun yang menggunakan jasa model. Sebuah talent/model agency mengatur fee (imbalan jasa), sampai membuatkan jadwal kerja para model, juga menjamin profesionalitas modelnya. Talent agency besar di Jakarta, misalnya Look Models sudah merambah industri lain, yaitu event organizer, TV production, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event Organizer (EO) menangani penyelenggaraan sebuah acara. EO yang baik memiliki tenaga-tenaga profesional yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan acara mulai dari konsep, penyelenggaraan sampai detil terkecil sebuah acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adv sering bersentuhan dengan EO saat mengadakan product launching atau annual meeting yang biasanya juga termasuk bagian dalam sebuah kampanye iklan. Selain itu, perusahaan lain yang memiliki andil cukup besar dalam industri ini adalah Production House (PH) yang mengurus pembuatan TV commercial dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Perlu Ada pada Praktisi Agency:&lt;br /&gt;1.Minat besar dan semangat yang tinggi. Daya kreativitas untuk menghasilkan ide-ide kreatif akan mengikuti bila sudah memiliki gairah yang tinggi yang akan membuka cakrawala ide kreatif kita menjadi luas. Semangat yang tinggi akan membuat kita terus berlatih dan berlatih.&lt;br /&gt;2.Ide-ide kreatif yang orisinal, bukan yang pernah dibuat orang lain. Kita harus dapat melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda (out of the box).&lt;br /&gt;3.Kita juga harus bisa menjadi trendsetter, menciptakan tren baru, bukan mengikuti tren yang sudah ada. Hal tersebut tidak akan mereka dapatkan jika hanya duduk diam di kantor. Kita harus mengetahui segala informasi terkini, tapi tidak takluk pada patern atau mode. Selalu peka terhadap lingkungan: tren, perkembangan jaman, dan apapun yang ada di sekitar kita. Karena itulah sumber ide-ide kita.&lt;br /&gt;4.Berdedikasi tinggi, sebab seorang praktisi yang berhubungan dengan dunia agency terkadang harus merelakan seluruh waktunya demi kerja.&lt;br /&gt;5.Menguasai teknik presentasi. Dengan teknik presentasi yang baik, kita dapat mengantarkan ide kita dan mendapat apresiasi dari klient.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tak dapat dipungkiri dunia glamour, lifestyle, dan entertainment memang akrab dengan industri ini, tetapi bukan itu saja. High pressure, long office hours, dan multiple deadlines yang sangat memanipulasi daya pikir juga dekat dengan kehidupan mereka. Bagaimana, merasa tertantang untuk bekerja di dunia agency?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.erlangga.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4288562611421739680-4349908923203912028?l=heryati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heryati.blogspot.com/feeds/4349908923203912028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/11/semarak-dunia-agency.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/4349908923203912028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4288562611421739680/posts/default/4349908923203912028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heryati.blogspot.com/2008/11/semarak-dunia-agency.html' title='Semarak Dunia Agency'/><author><name>heryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00074718401546897478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_rhiMDJWOrXU/ST4uat7VRVI/AAAAAAAAAAU/aTS6lB9a8iQ/S220/DSCN1313.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
